Selasa, 05 Juli 2011

Eross Chandra

Meskipun sudah hampir 5 tahun tinggal di Yogya, namun justru baru kali ini saya berkesempatan mewawancarai tokoh yang paling tersohor imagenya sebagai gitaris Yogya. Siapa lagi kalau bukan Eross Chandra. Gitaris sekaligus frontman dari band sejuta copy Sheila On 7 yang juga meruapakan seorang pencipta lagu handal di negeri ini.
Wawancara ini dilakukan di studio pribadi Eross di kawasan Sleman - Yogyakarta.

Sebelum interview dimulai Eross terlebih dahulu memperlihatkan ruang take di bagian lain dalam studionya. Lumayan luas juga untuk menggelar gathering anggota Gitaris.com Regional Yogya. Yap, Eross menawarkan studionya untuk dijadikan sebagai tempat gathering!!! \m/
And..... here we go


Halo mas Eross, dengar-dengar sekarang lagi ada project baru ya? Terus Sheila On 7 nya gimana?
Sheila tetep jalan. Jadi project baru ini aku kerjain kalo Sheila lagi nggak ada kegiatan. Aku sama anak-anak Jagostu (band barunya Eross -red) juga udah bilang kalau project ini kita jalanin jika masing-masing dari kita sedang tidak ada project di band utama masing-masing.


Siapa saja yang terlibat dalam project ini?
Kalau drumernya tetep pake drumer Sheila On 7, Brian. Trus ada Helmi (Zen / Dream Band 2) di vocal. Kemudian bassistnya namanya Alam, nama bandnya Mondayz sama Candles.


Selain SO7 dan Jagostu, ada project lainnya? Mungkin sebagai produser dari band-band indie misalnya?
Kalau untuk band-band aku sih cukup SO7 dan Jagostu saja. Mungkin habis ini aku mau ngumpulin penyanyi solo.


Mau mengorbitkan penyanyi solo maksudnya?
Yah.... banyak lagu-lagu yang versi pop yang nggak bisa dimasukin ke 2 band itu. Kalau di Sheila mungkin lagu-lagu tersebut terlalu ngepop, kalau di Jagostu apalagi.....


Kalau Jagostu sendiri konsepnya bagaimana?
Jagostu itu 'mostly' lagu-lagunya Garage. Beat-beat disco banyak juga cuman musiknya garage gitu.


Dari sudut pandang gitaris, apa bedanya Eross di Sheila dengan Eross di Jagostu?
Kalau di Jagostu soundnya lebih pake combo. Kalau di Sheila soundnya pake head-cabinet yang soundnya tebal gitu. Di Jagostu soundnya lebih ke mid british gitu deh.


Dengar-dengar beberapa lagunya Sheila lagi dilombakan di sebuah festival komik ya? Bisa diceritain nggak?
Oh iya ya.... tapi kalau untuk itu orang management yang lebih tau ha..ha..ha...


Click for larger version Ngomong-ngomong, Jagostu ini konsep band yang dimiliki bersama seperti Sheila misalnya atau konsep solo dengan band seperti Andra & The Backbone?
Ya, ini sebenernya solo albumku cuma aku kasih nama Jagostu. Dan orang-orangnya disitu tetep dapet royalti dari apa yang sudah mereka kerjakan.


Jagostu ini sendiri apa sih artinya?
Nggak ada. Aku cuman ngasal aja ngasih nama Jagostu. Nantilah artinya bisa dicari sendiri ha..ha..ha..


Sudah sampai mana project ini berjalan?
Senin besok sudah mastering. Yah kalau tidak ada halangan... nggak tau deh kapan mau ngeluarinnya, tapi cover sedang dalam pengerjaan, dan untuk peoduksi lagu-lagunya sudah selesai semua. Tanggal 11 lah paling......


Sudah dapat label mana?
Label Sony lagi. Jadi karena aku di 'publish' Sony jadi yang pertama aku tawarin Sony. Kebetulan mereka tertarik jadi ya udah, nggak ke label lain.


Berapa lama sih proses produksi album ini, mulai dari perekrutan personel sampai saat ini?
Lama tuh, ada sekitar 6 bulan. Itu karena kalau pas lagi tur sama Sheila jadi Jagostu nya nggak jalan. Itu yang bikin lama. Sebenernya kalo dihitung intensitasnya ya sekitar 2 bulan lah paling lama. Cuma lamanya karena seminggu kadang aku ada dirumah cuma 2 hari, itu yang bikin lama.


Apakah ada rencana mau membawa Jagostu menjadi band sejuta copy lagi?
Yang jelas ini genrenya beda lagi. Frekwensinya beda sama band-band kayak Sheila, Peterpan, atau Nidji. Jadi disini mainnya lebih mengutamakan apa yang sekiranya itu tidak bisa dilakukan band-band seperti itu. Jadi seperti liriknya yang ngomongin tentang pak polisi. Kan kalau band-band kayak Sheila, Nidji, Peterpan, mungkin kalau mereka bikin lagu begitu bukan sepantasnya juga. Fansnya juga kalau dengar pasti bilang "ngapain sih mereka ngomongin kayak gini?"


Dulu band-band Malaysia sukses besar "menjajah" Indonesia dengan Search, UKS, Sheila Majid, Siti Nurhaliza, dll. Namun akhir-akhir ini kita melihat sekarang malah musisi-musisi Indonesia yang rajin "menginvasi" Malaysia.... seperti Sheila On 7, Ungu, Padi, Inul, dan yang terakhir ini baru saja 3 Diva menggelar konser disana. Apa pendapat Eross mengenai fenomena ini?
Awal-awal waktu Sheila On 7 dulu aku gak pernah kepikiran seperti itu. Kalau waktu kecil dulu aku inget di Indonesia ada musik dari Malaysia. Sedangkan di Indonesia musik yang berkembang itu yang seperti God Bless dan Slank. Cuma mereka (Slank & God Bless -red) mungkin sulit beradaptasi sama kultur mereka yang di Malaysia. Mungkin itu yang bikin mereka (Slank dan God Bless -red) sulit masuk kesana. Karena kalau musiknya God Bless dan Slank itu sangat mengakar di kebudayaan Indonesia sekali. Habis itu eranya berubah ada KLA Project dan Dewa, musik mereka benar-benar pop universal, cuma kenapa musik mereka nggak bisa diterima di Malaysia mungkin trendnya disana masih slow rock Malaysia gitu, dan bisa juga karena musiknya KLA Project dan Dewa sama sekali tidak seperti itu. Mungkin sekarang orang-orang Malaysia sudah jenuh, trus mereka cari sesuatu yang lain, dan mungkin waktu itu pas yang datang pertama kali Sheila On 7. Jadi kita bawa pop yang lebih segar dan baru buat mereka meskipun sebenarnya apa yang dimainkan oleh Sheila itu kan udah dimainkan juga sama KLA Project dan Dewa... maksudnya akarnya masih sama..... bahkan sama Koes Plus pun nggak beda jauh. Cuma ya aku pikir Malaysia butuh proses buat menerima itu, dan mungkin baru sekarang ini mereka terbuka pikirannya... ternyata menjenuhkan juga memainkan musik seperti itu (slow rock melayu -red)...


Tahun 2000 konser Sheila pernah memakan korban meninggal di Lampung.... lalu beberapa tahun kemudian hal itu terjadi di konsernya Gigi..... dan kini kejadian seperti itu menimpa band Ungu di Semarang..... kira-kira apa pendapat Eross tentang hal ini?
Wah... itu susah memulainya darimana..... yang bikin aku heran, kenapa banyak pihak yang nggak belajar dari itu? Kejadiannya sampai bertubi-tubi. Seperti yang mas Arman (Maulana -red) bilang olahraga itu di Indonesia diberi fasilitas. Padahal cuma beberapa cabang olahraga saja yang bisa membawa nama Indonesia keluar seperti bulutangkis. Kalau kemudian banyak lapangan bulutangkis ya itu OK lah karena memang di support dan hasilnya memang ada. Kalau musik Indonesia aku pikir dari pemerintah itu dukungannya sangat sedikit. Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa musik itu bisa jadi industri yang dijual dan itu memberi masukan juga buat pemerintah Indonesia juga kan sebenernya. Apalagi musik Indonesia bisa ke Brunei, Malaysia, pokoknya rumpun melayu musik Indonesia masih bisa.
Harusnya diberi fasilitas dan perhatian khusus oleh pemerintah. Sebagai contoh bikinlah gedung konser di setiap propinsi yang benar-benar untuk konser.... mungkin pintu masuknya dibuat enak.... didalam ruangan dikasih AC.... aku pikir nggak susah juga kalau pemerintah mau fokus kesitu. Karena kalau dilihat memang bisa dikatakan di Indonesia yang industrinya stabil terus ya industri musik. Mau bagaimanapun ekonominya Indonesia morat-marit tapi industri musik tetep bagus, konser-konser tetep rame. Sebenernya aset juga buat negara. Jadi kalau pemerintah mau membuka wawasan lagi bahwa disitu ada aset yang belum tergali dari dunia entertain, harus disediakan tempat yang lebih aman juga buat penontonnya. Kalau tempatnya itu bener, aku yakin penontonnya nggak akan buru-buru mau masuk dan tradisi rusuh itu bisa dirubah. Moga-moga aja belum terlambat... di setiap daerah diberi gedung pertunjukan khusus, karena itu aset juga buat negara nantinya.


Click for larger version Sekarang ini musik dangdut makin mewabah..... apakah Eross kelak ingin terjun ke dunia dangdut seperti Ahmad Albar dulu juga pernah terjun kesana?
Kalau dangdut itu bisa dibilang musik rakyat di Indonesia yang sudah sangat mengakar. Aku kalau terinspirasi pasti ada, entah mungkin beatnya atau apanya.... karena dari kecil sudah terbiasa dengar dangdut itu dimana-mana ada. Cuma kalau untuk bikin project musik dangdut itu sampai sekarang belum kepikiran. Bukan karena aku benci atau gimana, tapi karena memang soulnya nggak ada disitu. Karena aku dari kecil denger musik dangdut cuma sepintas aja, jadi mungkin pengaruhnya sangat sedikit, lebih banyak dapet pengaruh dari musik popnya.


Kabarnya Eross main film.... gimana sih koq bisa main film?
Oh itu... hehehe, sebenernya itu aku nggak mau, tapi yang bikin film temen SMA ku. Dan dia ngasih jaminan lawan mainnya cantik dan kata-katanya sedikit. Ya OK lah, kenapa nggak... sebenernya itu cuma film indie aja... iseng aja.....


Beberapa waktu lalu sempat ada kejadian sebagian besar insan perfilman mengembalikan Piala Citra yang mereka dapatkan yang disulut oleh menangnya film Ekskul sebagai Film Terbaik. Seandainya Eross meraih penghargaan dalam piala citra misalnya sebagai aktor pendukung terbaik atau pencipta theme song terbaik..... apakah kamu juga akan ikut mengembalikan piala seperti yang dilakukan oleh teman-teman perfilman beberapa bulan lalu?
Jelas kelihatannya hehehe..... Karena aku sudah lihat sendiri theme song di Ekskul itu dan ceritanya seperti apa.... Jadi gawat juga ya kalau yang seperti ini menang, buat apa ya... malu-maluin aja....


Sejak kapan memutuskan untuk jadi gitaris profesional?
Sebenernya sampai sekarang belum saya putuskan hehehe..... Bisa saja suatu saat nanti saya jadi bisnisman he.. he.. he...


Atau mungkin bisa jadi juragan tanah ya nantinya? :D
Hehehe.... Ya main gitar kan berangkat dari hobi. Jadi aku ga pernah memutuskan mau jadi gitaris profesional atau gimana. Karena menghasilkan atau tidak aku akan tetap main gitar, apapun itu. Karena main gitar dan bikin lagu itu sudah suatu kebutuhan. Jadi sekarang ini saya belum memutuskan untuk bekerja disitu. Selama ini kerjaan yang saya lakukan karena hobi juga.


Punya berapa koleksi gitar sekarang?
30-an paling..... nggak tau juga ya, sudah lama nggak ngitung hehehe.....


Apa semuanya itu untuk dipake main di panggung dan rekaman atau hanya untuk investasi?
Investasi ada..., karena suka juga ada, kalau manggung sih biasanya bawa yang dari sponsor saja. Siapa yang mau sponsorin di album ini ya aku bawa tour.


Click for larger version Kemudian sekarang kan pake SP Guitars Pejantan Tangguh.... apa bedanya gitar tsb dengan telecaster yang sering kamu pake?
Kalau SP mungkin penggabungan dari banyak gitar yah.... kan aku sudah banyak nyobain gitar mulai dari telecaster, Les Paul, dan lain-lain. Pokoknya hampir semua gitar udah kucoba. Masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Jadi di SP ini semuanya kucoba gabungin. Jadi itu bisa mewakili setiap gitar itu. Mungkin kalau di Fender menang bright sama crunchnya, kalau di Gibson menang tebalnya. Ya udah, jadi tinggal digabungin aja gimana caranya bisa crunch dan bisa tebal.... sesimple itu. Cuma itu risetnya lama juga.... jadi pas gitar prototype ke-5nya yang baru bener-bener bisa mewakili tebal, bright, dan crunch sesuai yang aku mau.


Eet Sjahranie dikenal akan soundnya yang gahar, dan itu yang menjadi ciri khasnya sampai dia disegani oleh gitaris yang lebih senior, seangkatan, hingga yang lebih muda. Kira-kira apa yang diinginkan Eross sebagai ciri khas?
Wah... apa ya? Hmmm.... baik hati aja deh. Ha ha ha ha...... Dulu waktu kecil gak pernah bermimpi jadi seperti Joe Satriani atau Steve Vai yang main gitar hero. Aku lebih suka jadi secondman, maksudnya disitu ada vocalis dan waktunya vocalis jeda disitulah waktunya gitaris berperan. Jadi gitaris yang porsinya di band. Jadi memang kalau untuk jadi gitar hero dari dulu memang belum pernah kepikiran.


Sebagai gitaris asal Yogya, apakah Eross menilai bahwa harus pindah ke Jakarta bila ingin sukses besar? Bagaimana tips agar bisa sukses sebagai gitaris profesional di Yogya tanpa perlu hijrah ke ibukota?
Tergantung ya...... Tiap orang punya cita-cita sendiri. Maksudnya konsep dia nanti akan seperti apa.... kalo dari pertama Sheila On 7 kan konsepnya ngeband bareng kita bawa satu nama. Jadi kalo bareng-bareng kita nggak apa tinggal dimana aja tapi satu tempat dan nggak perlu di Jakarta. Tapi kalo dia session player... dimana dia cuma bawa gitar dan dia pengen main gitar di suatu band atau disuatu kelompok gitu mau gak mau dia harus ke Jakarta. Karena orang-orang yang membutuhkan gitaris lebih banyak disana, dia bisa jadi additional, session player, dll. Tapi kalau di Yogya, gitaris cuma sebagai pemain band mungkin ya kebanyakan. Jadi kalau bandnya nggak jalan, dia nggak jalan juga. Aku berani tinggal di Yogya karena Sheila On 7 itu jalan, jadi aku nggak perlu ke Jakarta.


Banyak band-band baru bermunculan sekarang seperti Samsons, Nidji, Letto, dll. Siapakah gitaris favorit Eross dari band yang baru muncul?
Hmmm.... aku suka isiannya Lukman Peterpan. Dia isiannya penting, bisa ngasih nuansa. Dan aku pernah juga denger demo mereka sebelum ada vocalnya si Ariel masuk. Ternyata memang cirinya di gitarnya Lukman ini... cara dia ngisi, pendekatan ke lagunya itu ngasih nuansa. Kalau band-band lainnya mungkin masih butuh waktu lagi untuk bener-bener memaksimalkan dia sebagai gitaris. Tapi kalau si Lukman aku pikir sih dia benar-benar sudah matang.


Tahun 2006 lalu Eross menggaet gitaris cewek, Prisa, yang juga salah satu anggota Gitaris.com, sebagai vocalis + additional gitaris untuk promo tour album 507. Gimana sih awal kenalnya dan kenapa memilih Prisa?
Awal kenalnya dari jualan gitar dan dibeli sama Mayzan. Dari situ Mayzan ngenalin...... Waktu itu aku nggak tahu Prisa main gitar sebelum dikenalin. Kita juga sempet hang out bareng dan aku lihat dia main akustiknya, dan kebetulan waktu itu kan awal-awalnya Sakti keluar. Kelihatannya memang kita butuh additional gitar akustik nih, kebetulan Prisa juga projectnya belum ada yang mesti cepet-cepet dan bandnya juga masih vakum.... ya..... kenapa nggak?


Click for larger version Apakah munculnya gitaris-gitaris muda wanita ini menandai akan bangkitnya trend guitar hero lagi di Indonesia?
Hmmm... kayaknya sih iya. Dengan diadainnya beberapa event gitaris kemarin juga seperti Trisum, 5 Gitar Master, dan Konser 1000 Gitar itu sebenernya juga sudah.... era musik alternative yang nggak mementingkan lead sudah bergeser lagi. Jadi interlude gitar sekarang sudah mulai jadi bagian yang penting lagi.


Ada tips-tips untuk gitaris-gitaris muda supaya bisa lebih sukses di pasar?
Kalau kita bicara pasar dalam arti industri musik Indonesia / masyarakat Indonesia secara luas. Pertama sih harus kuat di lagu dulu. Kalau lagunya kuat maka kamu harus menguatkan lagi dengan isian gitar kamu. Baru setelah itu kamu akan dikenal sebagai pemain gitar disitu. Jangan cuma ngisi-ngisi aja tanpa ada sesuatu yang bikin orang nengok ke gitar itu. Jadi intinya kalau memang mau dikenal luas di Indonesia harus berangkat dari lagu yang kuat, kemudian kamu harus memposisikan diri kamu sebagai gitaris yang bisa membuat lagu itu lebih kuat lagi dengan gitar kamu.


Beberapa tahun lalu kan sempat ramai terdengar bahwa akan diterapkan Undang-Undang Hak Cipta. Gimana sih pandangan Eross tentang hal itu? misalnya seperti mp3 bajakan dll.
Oh.... itu saya sih pesimis.. maksudnya kalau sampai bisa hilang ya... ada apa dengan dunia kalau bisa hilang... hehehe..... Ya kalau aku sih hidup cuma tinggal hidup.... di jalanin aja.... Cuma kalau aku berpikir sih mungkin salah satu solusinya gimana caranya bajakan itu bisa jadi legal. Mungkin ada (rekaman) kelas A dan kelas B caranya seperti itu. Kalau mau memberantas bajakan sampai bener-bener bisa hilang..... wah itu harus benerin ekonomi dulu secara keseluruhan dunia. Maksudnya Indonesia jadi banyak pembajakan kan karena faktor ekonomi juga. Kalau negaranya sudah benar, masyarakatnya hidup sudah selayaknya... mereka kan wawasannya akan luas, hidupnya tenang, lebih sering baca, dan dari situ mereka akan lebih bisa menghargai karya orang. Tapi kalau masih banyak demo harga beras mahal ya.... jangan berharap itu akan hilang. Jadi ya dijalanin aja. Solusi dari saya ya gimana caranya supaya yang bajakan itu bisa jadi legal.


Mungkin seperti nada sambung pribadi
Wah kalau itu sih masih rancu juga.... maksudnya presentasi sebenernya berapa sih yang harus didapet sama si artis dan perusahaan. Karena mereka kan gak ngeluarin duit lagi tapi sharenya tetep aja gede. Kan mereka cuma tinggal motong dari master. Sedangkan master itu cari balik modalnya itu dari jualan kaset. Jadi begitu udah balik modal dan dapet untung...... udah kan mereka udah punya master... buat apalagi mereka motong banyak dari situ.....
Begitu kira-kira...... ada lagi?


Hmm.... kayaknya cukup sampai segini dulu deh interviewnya..... makasih banyak bro... :)
OK.... sama-sama... :)


Selesai interview saya kemudian berani menyimpulkan bahwa interview dengan Eross kali ini adalah interview terbaik yang pernah saya lakukan. Dia mampu menjawab semua pertanyaan saya dengan sangat memuaskan. Eross saya nilai merupakan seorang gitaris yang sangat peka terhadap hal-hal yang aktual. Sama sekali tidak tertangkap kesan 'sok ngartis'. Dia sangat 'Jogja Banget'. Maka tak heran apabila salah satu mantan personel Trio Kwek-Kwek bisa jatuh ke pelukannya...... sialll!!! hehehe...

Setelah interview, Eross memperdengarkan sejumlah lagu-lagu Jagostu kepada saya. Yang menarik, ada satu lagu Jagostu yang menampilkan permainan gitar dari Baron dan Totok Tewel. GILEEE!!!! Saya benar-benar sangat berharap bahwa lagu ini agar dijadikan single pertama dan dibuatkan video klipnya. Pasti seru abis!!! \m/

Patub (Letto)

Ketika menyaksikan penampilan teman saya, Endah & Resha, di Gedung Societet Yogyakarta yang disebut-sebut sebagai salah satu gedung dengan akustik ruang terbaik di Indonesia, tanpa sengaja saya bertemu dengan anak-anak Letto di backstage. Setelah menyaksikan penampilan mereka sebagai salah satu pengisi acara, saya mencoba untuk berkenalan dengan gitarisnya, Patub. Ternyata Patub juga cukup sering mengakses Gitaris.com dan familiar dengan nama saya. Nah, kalo gini kan enak, urusannya bakal jadi gampang :P Akhirnya kami cuap-cuap dan bertukar nomor untuk janji interview keesokan harinya di basecamp Letto. Ditemani salah satu member Musisi.com dengan nickname arieshehehe, inilah hasil interview kami.



Kapan anda mulai main gitar?
Sebenarnya kalau dikatakan golongan musisi, aku ini terlambat, karena SMP baru tau gitar bolong, dulu malah sempet ngeband maen drum sama Dedi / Dhedot (drummer Letto). Jadi aku sama Dedi udah main dari lama dan bandnya macem-macem.



Alirannya apa?
Wah, alirannya nggak jelas hahhaa... ya namanya ngeband-ngeband tahun 90an kan ya gitu, jadi apa yang lagi tenar saat itu ya kita bawain. Mulai serius ngeband dengan ngebawain genre musik tertentu itu pas kuliah, dulu itu aku bawain classic rock sama jazz, tapi jazz yang soft, bukan yang jazz berat gitu.



Seperti Toto misalnya?
Ya semacem itu lah. Dulu kita latihannya di studionya Kiai Kanjeng. Jadi anak-anak Letto itu kan temen-temen semua, gak ada beda player sama kru. Bedanya player sama kru cuma kalo pas diatas panggung aja. Jadi tidak ada gap.



Awal mulai sama Letto?
Awalnya itu kan sebenarnya disini (basecamp Kiai Kanjeng), jadi aku sama Noe dulu kita sound engineer nya Kiai Kanjeng. Dulu Kiai Kanjeng kalo main kemana biasa aku ikut. Pernah diminta bantu buat jadi additional playernya. Kalo mau dibilang di Kiai Kanjeng malah mainnya lebih gak jelas lagi, disana kan semua musik dimasukin. Ya Arab, Jawa, rock, semua lah, karena mereka kan musiknya untuk memperkuat tema pertunjukan, beda sama musik-musik kita.

Dulu aku sm Noe sewaktu masih jadi sound engineernya Kiai Kanjeng, sama temen-temen dari SMA 7 Jogja iseng bikin lagu untuk didengar sendiri. Terus lagu-lagunya kita kasih denger ke warungnya teman-teman. Karena mahasiswa-mahasiswa pada makan disitu, sambil kita puter lagunya tiap mahasiswa kita kasih kertas, disuruh ngereview. Ya reviewnya macem-macem, ada yang bilang elek, ga enak didenger, gak jelas, yang bilang enak juga ada, wes pokoknya macem-macem. Trus kebetulan kita punya 3 lagu dan kebetulan mas Noe Java Jive lagi cari talent dan kita ditawarin. Jadi kalo kita ditanya dulu ngirim-ngirim demo gak ke label-label, ya jawabannya nggak, karena waktu itu kita beruntung pas mas Noe Java Jive lagi main ke Jogja, didengerin, trus OK.



Kalo Letto vakum ada rencana mau bikin side project gak?
Wah, wong kmrn aja Letto ditawarin bikin album religi aja kita nggak mau.
Ditanya "kenapa gak mau mas?"
Ya gak mau.
"Iya, kenapa gak maunya pasti ada alasannya?"
Ya pokoknya gak mau, gak ada alasannya.
Kalo aku sih, seandainya Letto lagi off, ya berarti emang jalanku lagi off, paling balik lagi ke studionya Kiai Kanjeng.

Jadi kita (Letto) itu seperti ada dalam 1 lingkaran dengan Kiai Kanjeng, gak akan bisa terpisah. Kalo Letto lagi nganggur dan pas mereka lagi butuh kita, ya kita kesana, sebaliknya juga gitu. Seperti kemarin waktu Soundrenaline, kita butuh mereka untuk memperkuat konsep, kita butuh kendang dan macem-macem, ya udah mereka yang bantu kita. Pokoknya enak lah, ga pake legalitas-legalitasan, ga perlu MoU, tinggal masuk aja.



Anda sendiri memang ingin eksis terus sebagai musisi atau gimana?
Dari dulu itu aku pengen banget sekolah musik formal. Baca not balok aja aku gak bisa. Ya bisa sih tapi nggak kayak baca koran gini hahahaha.....
Abis rasanya kalo dasar musik nggak kuat itu isin. Tadinya aku pengen belajar sama temen, cuma biasanya kalo sama temen kan gak disiplin, beda kalo kita sekolah di ISI misalnya. Padahal additionalku si Cornell itu orang ISI. Maennya rapi tenan, tangannya ora ngerti aku, wes kalah jauh aku, basicnya dia udah kuat.



Sekarang punya gitar berapa?
Gitar umum manusia (Fender) ada 4. Stratnya ada 3, telenya 1. Itu tele punya Sakti (eks Sheila On 7) ke Ison trus ke aku.
Abis tu ada sitar, itu punyanya mas Deny Chasmala trus dijual ke aku. Aku juga punya Framus tahun 69, cuma wiringnya blom aku benerin, kalo dimaenin humming, tapi gitarnya apik tenan. Aku juga punya gitar nylon yang aku buat sendiri di Surabaya di Mang Koes, wah apik tenan gitarnya. Aku juga ada gitar yang steel string, bikinnya disana juga. Gitar-gitar itu pake kayu Brazilian Rosewood. Di Brazil sendiri kayu itu sudah dikonservasi gak boleh keluar. Kayu ini dapetnya di Pati Jawa Tengah, dulu ada orang Belanda punya kebun, ternyata dia nanem ini (Brazilian Rosewood). Kemudian ada orang yang mau buka perkebunan, temennya mang Kos itu, pas diliat "wah ini Brazilian Rosewood". Akhirnya 2 pohon itu dibawa pulang sm mang Kos, dan sekarang kayu itu tinggal nunggu habis, wong gak ada lagi, cari dimana?. Makanya dia kalo mau bikinin gitar pake kayu itu milih-milih pelanggannya. Walaupun harganya cocok gak mesti dia mau buatin, dia ngeliat manfaat kalo kayu itu dibikin gitar untuk kliennya. Biasanya dia mau buatin kalo ada rekomendasi dari temennya. Aku sendiri dapet ini dari mas Deny Chasmala. Dia berteman dekat sama mang Kos udah lama, Budjana juga kenal deket sm mang Kos.



Ini dipakenya dalam kondisi apa aja?
Kalo aku sih sama Letto itu kan soundnya nggak macem-macem, cuma clean sama drive. Tapi karena kadang-kadang pake distorsi ya pake juga walau nggak sering. Cuma sampe sekarang aku masih nyari distorsi yang cocok sama lagu-lagu kita (Letto). Susah juga sih, aku pengen distorsi yang gak terlalu garang. Kemarin sempat pake Tonebone Hotbritish. Apik, cuma efek itu peka terhadap power yang ngedrop. Akhirnya susah payah aku dapet ditorsi yang sekarang dan Nobels ODR1 (pojok kanan bawah ) dari mas Lys Diokay. Abis dapet ini trus Hotbritish aku jual. Ya, masa harus beli Hotbritish lagi, koyo wong edan malah hahaha....



Kalo dilihat-lihat semua pedalnya tipe analog semua nggak ada yang digital? Apa karena digital kurang natural?
Ah, kalo soal digital atau analog itu selera sih. Tapi karena aku udah kecantol dengan stomp box jadi udah susah kalo mau ganti digital. Zaman sekarang aku nggak setuju juga sih kalo orang bilang analog soundnya lebih nendang, sound-soundnya Nidji digital juga tetep gigit ya kalo menurutku, sekarang digital ya apik-apik TC Electronic, Line 6, bagus-bagus, ini masalah selera koq.



Mulai ngumpulin dari kapan?
Ini sejak album pertama. Album pertama Letto aku masih pake AX30 yang legend itu hahaha.



Di beberapa penampilan anda belakangan ini terlihat memakai sitar, apa alasannya bisa sampai bermain sitar elektrik ini?
Pertama karena aku sering main ke tempat mas Denny Chasmala, trus aku liat dia punya sitar elektrik bagus, kemudian lingkunganku kan ada Kiai Kanjeng, mereka kan main musik-musik seperti itu juga ada arabnya, ada Indianya, macem-macemlah, mau nggak mau ya kepalaku pasti terpengaruh juga walau biasanya main pop.



Amplinya sendiri pake apa?
Aku ampli sih pake Jazz Chorus, cuma ga pernah beli. Soalnya jazz Chorus kan standar cafe dan panggung, jadi main kemana-mana mesti udah ada, yo wes ngapain beli lagi, man-eman hahahha



Apa arti musik buat seorang Patub?
Hmm... musik itu bukan segala-galanya. Ya ok lah sekarang kita berpenghasilan di musik industri karena kita sudah terjun kesini. Tapi musik itu merupakan cabang dari kesenian, dan kesenian merupakan cabang dari kebudayaan, dan kebudayaan itu merupakan sign dari sebuah bangsa yang besar, maka seharusnya musisi2 itu berbangga karena merupakan sebuah bagian yang sangat kecil dari sebuah bangsa yang besar.

Tapi kalo musik secara teknis ya sangat gampang, tinggal les atau sekolah di ISI pasti bisa main musik. Tapi masalahnya kita hidup tiap hari, bergaul, punya temen beraneka karakter, bergaul, mau nggak mau itu kan membentuk musikmu. Musik itu nggak melulu nada, aransemen, lirik, dll. Nggak bisa dibentuk dalam 1 jam duduk nulis lagu sambil bikin chord, butuh proses sejak dari kita lahir, nanti musik kita pasti merupakan sebuah pembentukan dari semua itu, sadar gak sadar.



Gitaris favoritnya siapa?
Tetep Jimmy Page, kalo Indonesia aku suka Budjana karena Budjana itu gitaris yang ga punya tampang gitaris hahaha.... tapi yo mainnya apik, edan tenan, dan dia sangat menghargai akar kesenian. Maksudnya musik pop ini ada, karena Indonesia banyak musik-musik daerah, itu yang mestinya membuat musik kita bisa maju. Andai pemerintah bisa memberantas pembajakan aku yakin kalo musik kita bisa ngalahin Amerika.



Apa ide dibalik konsep penampilan Letto di Soundrenaline kemarin?
Kalo kemarin itu sebenernya keuntungan kita hidup disini. Itu mau gak mau karena kita hidup satu lingkaran sama Kiai Kanjeng. Jawanya kentel, root musiknya ada, dan setiap kepala dari kita juga pengen menunjukkan bahwa Indonesia ini kaya musik, gak mesti Jawa, Sumatra. Tapi menurutku Soundrenaline itu ngerepotin koq, dia maunya ada konsep, kita sendiri yang disuruh garap, tapi setelah kita ajuin konsep mereka bilangnya "wah ga boleh kamu nutupin backdrof". Jadi gunungan yang kemarin kita tampilkan di Soundrenaline itu tadinya gak boleh, cuma kita kasih pilihan "yo wes, ora pake gunungan, kita main 3 lagu biasa wae piye?", wes akhirnya mereka ngalah. Pas di panggung kita main 20 menit medley gak putus-putus.



Tapi waktu bikin konsep itu kalian sebenernya memang ingin menang dan berangkat ke Abbey Road apa nggak?
Nggak! Kita sama sekali nggak pengen menang ke Abbey Road. Itu menurutku hadiah yang ngerepotin. Hadiah itu mestinya terserah kita mau liburan kemana, lha ini hadiah disuruh rekaman. Ya walaupun itu Abbey Road ya kita semua tau itu salah satu tempat paling bersejarah dalam dunia musik. Tapi tetep aja hadiahnya mesti kerja toh? Ya udah daripada juara 1 mending juara 2 aja deh hahaha.



Masih berkaitan dengan Soundrenaline, dimana salah satu merk rokok jadi sponsor utama. Sekarang kan lagi ramai di berita katanya rokok mau di fatwa haram. Sedangkan setau saya, mayoritas event musik berskala besar dibiayai oleh perusahaan rokok.
Menurutku orang-orang Indonesia itu kebanyakan cangkem tapi gak pernah megang apa yang dia omongin. Lha mbok sebelum ngurusin itu coba urusin pembajakan yang udah jelas seniman-senimannya dirugikan. Tempe dicolong Jepang, batik sama reog dicolong Malaysia. Ya ngono kui koq nggak diomongin? malah ngomongin rokok. Menurutku hal yang sangat ironis, hal yang nggak penting sebenarnya untuk diurusi, menurutku prioritas ke 69 setelah urusan pembajakan dan hak cipta. Coba pemerintah dukung musisi-musisi kita, selama ini juga hampir gak pernah toh? Malah kita digerogoti terus dengan pembajakan menurutku, tapi ya kita tetep bertahan. Menurutku pemerintah ga bisa main kunci C, kalo bisa main kunci C kayaknya bisa lebih lumayan dalam ngurus negara.



Ini masih ada kaitannya dengan pertanyaan sebelum ini, tahun depan kan Pemilu, kira-kira sosok pemimpin yang punya program seperti apa yang diinginkan? Siapa tau Capresnya buka-buka Musisi.com
Menurutku presiden nantinya mesti tahu kesenian, karena kesenian itu penting, bukan karena aku musisi lho. Menurutku orang yang ngerti seni itu hatinya alus, insyaallah moralnya bagus, bisa mengayomi banyak orang, cinta terhadap alam, bisa memaknai hidup, dan itu pasti terefleksi di perilakunya sehari-hari. Karena orang-orang birokrasi itu orang-orang yang gak punya jiwa seni. Lha ini jiwa seninya ngeduitin rakyat.



Konsep-konsep seperti apa lagi sih yang ingin dicapai Patub dalam bermusik?
Kalo orchestra udah pernah, dan sekarang malah jadi terlalu biasa. Sekarang malah aku pengennya ngeliat ada konsep-konsep baru yang bener-bener extrim. Misalnya jazz karo punk, mbuh piye carane aku ora ngerti hahaha.....
Trus misalnya Waljinah karo bandnya mas Khrisna kui opo tho?



Suckerhead?
Nah! Suckerhead hahaha wah itu pasti sangat menarik, karena masing-masing pihak dituntut kearifannya dalam memix musik mereka. Kalau sampe ada yang begitu wah pasti menarik banget.



Sekarang di Indonesia mulai rame gerakan wanita-wanita bergitar, apa pendapat anda mengenai hal ini?
Waduh, kalo menurutku ya bagus.. Jadi pandangan mata nggak burem toh. Masa tiap manggung yang dilihat cowok-cowok gondrong melulu ya berkunang-kunang mataku hahaha. Ya intinya di seni itu nggak mengenal gender koq, banci mau main seni ya silahkan, malah banyak toh banci yang melestarikan budaya Indonesia, ngamen pake kebaya bawain lagu-lagu dangdut dan daerah. Ya intinya nggak ada limit dalam seni.

OK mas Patub, makasih banyak interviewnya..... sering-sering main ke Musisi.com ya
(info, Patub juga suka mengunjungi komunitas kita tercinta Musisi.com)



Dari hasil interview saat itu, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah, Patub merupakan salah satu sosok gitaris yang rendah hati. Dengan keadaannya saat ini sebagai gitaris dari band top tanah air, Ia bahkan tidak sungkan jika harus kembali ke studio dan menjadi additional player ataupun crew Kiai Kanjeng. Ia tidak pernah melupakan jasa orang-orang yang telah membantunya berkembang dan berkarir.

Marty Friedman

Melalui kontribusi teman-teman Musisi.com, terpilihlah sejumlah pertanyaan yang akan dijadikan bahan interview eksklusif Musisi.com dengan salah satu dewa gitar ternama, Marty Friedman. Simak jawabannya mengenai cara picking yang aneh hingga video Melodic Control versi bahasa Jawa yang marak di YouTube ! Satu lagi fakta terkuak bahwa Marty Friedman ngefans sama salah satu bintang film Indonesia, siapa dia?







Periode Awal

Berapa usiamu ketika pertama kali belajar gitar?
14 tahun


Mengapa memilih gitar? bukan bass atau drum?
Gitar itu lebih keren ;)


Apa gitar pertamamu saat itu? Apakah masih menyimpannya?
Merk Rhythmline, replica Gibson Les Paul, tapi sudah tidak ada.


Pada usia berapa kamu merasa siap untuk berkompetisi dengan gitaris lain seperti Yngwie Malmsteen atau Eddie Van Halen?
Tak ada kata kompetisi. Sama halnya seperti Eddie Van Halen sudah popular sebelum saya ada, tetapi saya juga sudah exist sebelum Yngwie popular.


Darimana kamu memperoleh pelajaran gitarmu ketika masih muda? Apakah kamu mendapatkannya dari guru, buku musik atau sekolah musik?
1 tahun belajar dari guru, lalu aku pelajari sendiri.


Siapa guru yang paling berpengaruh?
Aku belajar dari semua musisi yang pernah aku temui.



Era Cacophony

Majalah Guitar World menyebutkan Mike Varney-lah yang memperkenalkan kamu ke Jason Becker. Apakah yang membuat Varney berpikir bahwa kalian ini adalah duo gitaris yang sempurna? Permainan kalian berdua kedengaran sangat berbeda.
Mike memperkenalkannya karena menganggap Jason itu luar biasa. Memulai sebuah band merupakan ide saya dan Jason (bukan Varney).


Kesulitan apa yang kamu temukan ketika menggabungkan musikmu dengan Jason?
Tidak begitu sulit.


Gitaris mana yang kau anggap sebagai sainganmu pada saat itu? Selain Jason Becker, Steve Hunter, dan Dave Mustaine tentunya.
Aku tak pernah bersaing dengan siapapun. Musik itu bukan persaingan :)


Kulihat bahwa album shred pertamamu adalah Cacophony album Speed Metal Symphony. Apa konsep dan filosofi di balik musik Cacophony?
Oh bukan, saya sudah main gaya shred sejak era saya main di band Hawaii. Walaupun sebenarnya saya tidak menyukai istilah "shred" itu sendiri. Konsep dan filosofi saat itu: lebih intense dari siapapun juga :)


Apakah kalian memang berniat bermain secepat itu? Atau hanya mengikuti trend tahun 80an?
Trend apaan? :) Saat itu belum ada duo gitaris yang bermain secara independen pada saat yang bersamaan seperti kami. Kamilah yang pertama melakukannya dan kemudian gitaris lain mulai terpengaruh dengan style seperti itu.


Aku melihat ada banyak sekali arpeggio di Cacophony. Siapa sesungguhnya yang mendalami teknik arpeggio pada saat itu? Kamu atau Jason?
Hal tersebut tidak begitu penting, hanya salah satu bagian dari teknik-teknik kami. Yang lebih penting yaitu: teknik kami adalah intensitas dari musik dan tak ada seoarangpun yang mampu melakukan kegilaan yang telah kami lakukan. Ini bukan pernyataan yang arogan, tetapi sungguh-sungguh sebuah kenyataan.


Selain arpeggio, saya juga menemukan banyak sekali scale-scale Jepang di album Speed Metal Symphony.
Itu bukan scale, itu hanya melodi. Jika sesuatu yang saya lakukan itu kelihatan seperti scale, maka itu hanyalah sebuah kebetulan.


Berapa lama kamu menganalisa hal-hal yang berbau Jepang hingga kamu menguasainya?
Tak ada istilah menguasai dalam bermusik. Aku masih tetap menganalisanya hingga saat ini.


Selain scale Japanese, kamu juga memasukkan hal-hal berbau Mesir seperti lagu Jason Becker, Eleven Blue Egyptian. Bisakah kamu memberiku contoh scale Egyptian dalam 1 oktaf. Atau mungkin scale Persia.
Jika kamu ingin memainkan sesuatu yang berbau Persia, pelajarilah musik tradisional Persia dengan telinga. Pelajarilah beberapa scale Persia, walaupun sebenarnya scale itu istilah yang lucu. Dengan hanya memainkan beberapa nada dari scale Persia, sebenarnya tidak akan memberikan banyak nuansa Persia.


Album apa yang kamu rekomendasikan jika aku ingin belajar musik Mesir dan Persia?
Musik dari negara apapun dapat dengan mudahnya kamu peroleh dari YouTube dan dapat langsung kamu pelajari jika berminat.


Intro lagu Go Off terdengar begitu ganjil, apakah itu merupakan hal yang paling maut yang pernah kamu mainkan? Siapa yang mengkomposisi intronya?
Jason yang menulisnya. Pada saat itu kami berdua terinspirasi oleh salah satu demo Ron Jarzombek yang kami dengarkan di rumah Mike Varney.


Bagaimana dengan proses rekamannya? Apakah kalian mempercepatnya (dengan teknik rekaman tertentu) atau kalian benar-benar memainkannya dengan kecepatan seperti itu?
Biasanya kami main berdua jika lagi manggung, tetapi untuk album itu kita rekam 2 kali, keduanya dimainkan oleh Jason. Sebelum adanya teknologi digital recording ProTools, sungguh sulit menjaga agar jarak space antara kalimat tetap bersih. Sound engineer kami akhirnya membersihkan space tersebut, hasilnya membuat permainan kami kedengaran seperti dipercepat, padahal sebenarnya tidak dipercepat.


Kembali tentang arpeggio.. di bagian terakhir lagu "Images", apakah itu suara harpa atau murni suara gitar?
Itu adalah synthesizer yang dimainkan oleh Jason.


Menurut pendapatmu, solo manakah yang tercepat di album Cacophony?
Sudah saatnya kalian tidak hanya memikirkan speed. Beberapa bagian dari lagu yang ada di album Speed Metal Symphony merupakan yang paling cepat. (sepertinya Marty sudah lupa judulnya apa hehe)


Juga yang mana yang menurutmu paling sulit dimainkan oleh orang lain?
Semuanya. Saya tidak akan membuatnya seperti itu jika saya tidak dapat/ingin memainkannya. Segala sesuatu akan menjadi mudah bagimu jika itu kamu buat sendiri. (komentar penting)


Aku dengar dari Mayzan bahwa Speed Metal Symphony telah selesai ditulis sebelum kamu bertemu Jason
Ya, album Speed Metal Symphony sudah selesai sekitar 80% "sebelum" aku bertemu Jason.


Solo Album

Bisa sebutkan 5 lagu instrumental yang paling kamu banggakan? Aku bertaruh satu diantaranya adalah Thunder March?
Kamu benar! Aku juga sangat menyukai Valley of Eternity & Tears of an Angel. Hm sepertinya semuanya deh :)


Apa alasannya kamu memilih Jeff Loomis sebagai bintang tamu di lagu Burn The Ground (dari album Future Addict)? Menurut saya dia merupakan salah satu gitaris death metal tercepat masa kini.
Dia gitaris metal yang hebat, ramah dan juga penggemar Cacophony. Pada saat itu aku pikir seru juga kalau kita bisa main bareng.


Apa pendapatmu tentang Jeff Loomis? Bagi kami dia sangat luar biasa. Memiliki kemampuan main yang tinggi dan musikal, juga merupakan salah satu gitaris yang masih memainkan gaya Cacophony sampai saat ini.
He rocks!


Jika kamu kembali membentuk band Cacophony baru. Gitaris mana yang akan kau pilih sebagai reinkarnasi Jason?
Tak akan ada Cacophony baru. Itu sudah lewat saat ini.


Jika kamu sedang berpergian dan secara kebetulan mendengarkan lagu instrumental gitar yang mengagumkan, apa hal-hal kecil yang membuatmu terkesima? Apa hal yang paling penting dari permainan gitar instrumental?
Yang membuatku terkesima itu justru jika lagu tersebut tidak kedengaran seperti sebuah instrumental! Buatku instrumental itu membosankan. Jika yang membuatku terkesima itu ternyata sebuah instrumental, pasti itu instrumental yang mirip dengan lagu yang bervokal.


Kabarnya kamu pernah memainkan lagu "End of the Beginning" (Jason Becker) dengan sebuah orkestra. Jika suatu hari kamu diminta untuk membawakan lagu Jason lagi, lagu mana yang akan kamu pilih?
Waktu itu aku membawakan End Of The Beginning dengan "American Orchestra" di San Francisco. Aku tak akan keberatan memainkan "Altitudes" suatu saat nanti.



Teknik Gitar

Teknik pickingmu cukup aneh. Apakah kamu secara tidak sengaja menemukannya ketika pertama belajar gitar? Atau ada alasan lain atau kisah tertentu?
Aku tak tahu bagaimana itu bermula. Aku tak suka sound solo gitar yang dimuted, maka posisi tanganku membiarkan semua senar berbunyi sekencang mungkin.


Sebagai gitaris otodidak, kamu mampu menempatkan scale diminished yang keren-keren di lagu "Devil Takes Tomorrow" dan selalu memainkan lick-lick outside yang keren-keren di semua solomu. Bagaimana kamu melakukan hal itu?
Aku hanya membuat musik dan menambahkan beberapa elemen yang menghidupkan musik tersebut. Jika kamu menganalisanya, maka kamu akan menemukan banyak hal yang aneh.


Kebanyakan orang menyukai lagu-lagu baladamu seperti Devil Take Tomorrow, Love Sorrow dan Tears Of An Angel. Mereka selalu berpikir kamu merupakan gitaris paling romatis yang pernah ada. Apakah kamu benar-benar seromantis itu? Apakah kami harus menjadi orang yang romatis terlebih dahulu, sebelum kami dapat menciptakan lagu romantis?
Bisa jadi! Aku memiliki sense of phrasing yang sangat romantis.


Pernahkah seseorang bertemu denganmu dan mengatakan bahwa musikmu sangat romantis?
Setiap saat! :)


Seberapa tinggi action senarmu?
Cukup tinggi. Aku tak suka action senar yang terlalu rendah. Aku suka bermain dengan sangat kuat dan agresif. Jika actionnya terlalu rendah, maka kamu tak akan dapat memperdalam permainanmu.


Kamu punya vibrato yang sangat kuat dan aneh. Gitaris mana yang mempengaruhimu?
Vibratoku tidak dipengaruhi oleh gitaris. Umumnya dipengaruhi oleh suara manusia, erhu dari China, biola dan lain-lain.


Gitaris mana yang kamu anggap punya vibrato bagus?
Neil Geraldo, Uli Jon Roth dan banyak lagi.


Berdasarkan video Melodic Control-mu, kamu bilang bahwa blues itu mutlak tetapi kamu sendiri bukan penggemar berat blues. Aku menyadari terkadang orang terlalu berlebihan tentang blues dan mereka menganggap blues adalah segalanya. Apa penilaianmu terhadap hal ini?
Blues memudahkanmu untuk ngejam dengan siapapun. Dan jamming dengan orang lain merupakan hal yang paling bermanfaat bagi seorang musisi, jadi itu sangat penting.


Memainkan melodi setiap hari adalah latihan yang paling penting bagimu. Lalu apa yang harus kita latih atau pelajari untuk menghasilkan melodi yang bagus. Ada tips?
Pelajarilah melodi favoritmu dengan menggunakan telinga dan backing track. Setiap saat.


Apakah kamu mengkomposisi dengan gitar? atau dengan komputer?
Keduanya


Atau mungkin, cuman langsung kamu tulis saja?
Kadang-kadang :)


Ada gosip yang mengatakan bahwa Josephine Draven (gitaris Indonesia) adalah murid anda. Apakah itu benar?
Tidak, dia bukan murid saya. Tetapi aku pernah bertemu dengannya, dia ramah dan mainnya bagus.


Setelah kamu keluar dari Megadeth, siapakah gitaris pengganti Megadeth yang menjadi favoritmu? Al Pitrelli, Glen Drover atau Chris Broederick?
Aku yakin mereka semua gitaris hebat, tetapi aku belum pernah mendengar Glen Drover or Chris Broederick.


Aku yakin bahwa Ibanez adalah merk gitar bagus. Apa merk favoritmu selain Ibanez?
Banyak... Gibson, PRS.


Gitar berbentuk Explorer/Firebird menjadi begitu populer di Indonesia karena kamu selalu menggunakannya di era Megadeth. Jackson manakah yang menjadi favoritmu di era itu?
Jackson Kelly-ku.


Pernahkah kau menjadi seorang penderita GAS (penyakit membeli gear tanpa henti) mania?
Tidak pernah :)



Industri Musik Jepang

Ketika kamu pertama kali memasuki industri musik Jepang. Apa yang menjadi tantangan terbesar?
Ketika berangkat dari seorang musisi internasional kemudian menjadi seorang musisi domestik. Karena staff, perusahaan dan musisinya.. semuanya serba beda.


Aku pernah menyaksikan kamu berkolaborasi dengan Aikawa Nanase, Sera, Ami Suzuki, dan Pata (X-Japan), menurutmu siapa gitaris yang paling menarik?
Aku jarang menilai gitaris, tetapi Hotei dan Tak Matsumoto sangat terkenal dan besar di Jepang sini.


Kamu juga pernah berkolaborasi dengan Steve Vai, Paul Gilbert, Uli Jon Roth, Steve Lukather, Ron Jorzambek, Alex Skolnick, John Petrucci & Jeff Loomis, siapakah yang paling ramah dan yang mana favoritmu?
Haha! Mereka semua gitaris hebat dan juga ramah! Sejak dulu aku menyukai permainan Uli, jadi dengan mudah saya dapat mengatakan Uli-lah favoritku.


Masa Depan


Jika kamu akan membuat project seperti G3, siapa yang kamu impikan untuk bergabung?
Aku tak akan melakukannya. 3 jam hanya musik gitar akan membuatku tertidur.


Kamu selalu bermain dengan Steve Vai di rekamanmu. Pernahkah Vai memintamu bergabung di G3? Apakah kamu tertarik bergabung dengan mereka?
Secara ego, aku akan mempertimbangkan jika ditanya. Tetapi aku yakin, aku akan belajar banyak dari gitaris-gitaris itu.


Siapa gitaris wanita paling hot di dunia? Sebutkan juga 3 bintang layar lebar yang paling hot.
Aku cuman ingat Alison dari the Donnas, dia merupakan gitaris rock wanita terbaik. Aku tidak tahu banyak tentang bintang layar lebar. Mungkin Febby Lawrence, apakah dia hot? :D


Apakah pernah terpikir untuk membuat band rock/metal seperti Cacophony/Megadeth lagi?
Tidak akan. Itu semuanya hebat, tapi itu hanya jadi sejarah.


Jika kamu bisa menjadi gitaris lain, kamu ingin menjadi siapa?
Pertanyaan yang bagus, tapi aku tak ingin.


Jika kamu punya kesempatan untuk belajar alat musik lain, alat musik apakah itu? Aku rasa itu Erhu atau Cello deh?
Keduanya benar!


Pernahkah kamu menonton video Melodic Control dalam bahasa Jawa?
http://www.youtube.com/results?search_query=marty+friedman+jawa&search_type=&aq=f
Tapi jangan tersinggung, itu hanya perbuatan iseng yang dikerjakan oleh seseorang tak dikenal. Video itu cukup popular di Indonesia. Apa pendapatmu?
Aku suka itu ;)


Jika suatu hari nanti kamu memutuskan untuk tidak bermain gitar lagi.. atau jika kamu tak punya kemampuan untuk bermain gitar lagi, apa yang akan kamu lakukan?
Jadi produser.


Apakah kamu punya hobi di luar menyantap masakan Jepang dan bermain gitar?
Bahasa.


Apa yang paling kamu sukai di dunia ini selain musik?
Wanita cantik :)


Apakah ambisimu dalam bermusik?
Menjadi sedikit lebih baik dari hari ke hari.


Terima kasih untuk wawancaranya, Marty!
OK, terima kasih dan kirim salamku buat semua anggota Gitaris.com!



Demikian interview Musisi.com dengan Marty Friedman, semoga bermanfaat bagi kita semua. Ternyata Marty ngefans sama Febby Lawrence. Mungkinkah Marty akan mengikuti jejak Mike Tramp yang jatuh cinta dengan wanita Indonesia dan berdomisili disini? :)

Terima kasih banyak kami sampaikan kepada teman-teman forum Musisi.com yang telah menyumbang pertanyaan. Inilah nama-nama para kontributor dalam interview ini :

Tetsuya, Brahms, kizu_mee, ~ken™~, JasonFreak, ivan_aral, Itank_Imut, daddy, zack6, lydian, vultura, IwanCumi, Flying_Finger, DevilTake, vlash, greg_bennett, HafidzeR, NA-Noe, Ipoel_Blackmore, Rahadian_Anggit, fulres, rockergaek,
littlewing, si troy, mubone, Robie Saraswati, Dhani meonk, la_icank, denydeth, Joe Satriono, sesar, jimdunlop_1mm, t4t4n_inter, taqi, PUGUHTRIWIBOWO, pujiarta, rio_adi, MSANAKIN

CELLA (KOTAK)

Malam itu, 24 Maret 2011, dengan dibantu oleh teman yang bernama, Andunk, akhirnya saya berhasil bertemu untuk pertama kalinya secara langsung dengan Cella, satu dari (bahkan mungkin satu-satunya) gitaris rock sejati yang mampu terus berkibar ditengah gempuran badai musik pop melayu dan era bajakan yang gila-gilaan.

Pertemuan ini sangat saya nanti-nantikan demi berhasilnya sebuah misi. Ya, misi yang berawal dari sebuah keprihatinan atas minimnya catatan, jurnal, dan arsip musik Indonesia yang bisa diakses oleh generasi saat ini dan berikutnya. Maksudnya begini, sejarah musik Indonesia telah dimulai sekitar 40 tahun lalu ketika Koes Bersaudara memulai sepak terjangnya di dunia musik. Namun generasi saat ini sulit sekali menemukan arsip / catatan-catatan lengkap yang bisa diakses melalui internet. Catatan yang ada hanya bisa didapatkan jika ada sebuah media cetak yang mengeluarkan artikel tersebut dalam salah satu edisi bulanannya. Namun sebuah media cetak seperti majalah dan koran, akan hilang seiring dirilisnya edisi-edisi yang terbaru. Selain itu, catatan dalam bentuk fisik akan sulit diendus oleh peminat yang berada di tempat yang jauh. Terlebih, kurangnya kesadaran musisi-musisi Indonesia dan juga pemerintah terkait untuk mengumpulkan arsip-arsip penting dan membaginya kepada masyarakat generasi masa kini menyebabkan terputusnya aliran pengetahuan sejarah musik Indonesia. Bandingkan dengan di luar negeri, cukup mudah bagi kita untuk menemukan arsip interview musisi di era tahun 60an hanya dengan mengakses Google. Atas dasar inilah, maka saya berinisiatif untuk menginterview musisi-musisi Indonesia untuk mendapatkan wawasan mengenai sejarah hidup, daftar karya, dan buah pemikirannya, agar musisi muda di generasi mendatang dapat mengenal mereka, para pahlawan yang pernah berjuang dan menghiasi tanah air ini dengan karya-karya yang indah. Sebagai langkah awal, simaklah hasil interview saya dengan Cella.

Kapan anda mulai mempelajari gitar dan siapa inspirasinya saat itu?
Awal gue main gitar itu kalau nggak salah SD kelas 5, tapi itu baru tertarik, belum belajar. Belajar gitar setahun kemudian waktu masih eranya Laser Disc. Kebetulan ada saudara gue ngefans sama GNR (Guns N' Roses). Saat itulah gue liat gitarisnya, Slash, anjrit gayanya keren banget. Dari situ gue tertarik main gitar. Meski sebetulnya sejak masih TK gue sudah tertarik dengan dunia musik, tapi gue nggak doyan lagu anak-anak untuk seumuran gue. Karena di lingkungan gue sendiri setiap hari bokap denger Led Zeppelin, Deep Purple, The Doors. Itu kan musik rocknya era bokap gue tahun 70an. Dari situlah gue tertarik sama yang namanya gitar. Mulai belajar gitar pun pertama genjreng pakai gitar tetangga dulu.

Proses belajar gitarnya sendiri otodidak atau sempat ikut les?
Sempat belajar sama tetangga gue saat masih tinggal di Banyuwangi. Kebetulan di dekat tempat tinggal ada studio musik, gue lihat mereka mainnya jago-jago. Akhirnya sama tetangga gue diajak latihan disitu. Mulai belajar dari main-main chord dulu. Setelah itu gue mulai belajar ngulik pertama kali lagunya God Bless (Semut Hitam) pakai gitar akustik. Itu juga mainnya ngawur, asal bisa intro doank udah bangga banget hahaha. Akhirnya, seiring berjalannya waktu gue mulai belajar otodidak. Sampai sekarang pun gue nggak ngerti not (balok) itu apa, partitur itu apa, bahkan tablature itu pun gue nggak ngerti sampai sekarang. Soalnya sudah terbiasa dari dulu cuma ngandalin kuping.

Selain Slash siapa saja idolanya saat itu?
Waktu gue belajar gitar sampai SMA gue hanya belajar Slash dan Slash dan Slash. Sebenarnya pada saat itu gue juga suka dengan Deep Purple dan Led Zeppelin, tapi waktu itu gue nggak tahu sosoknya seperti apa, karena gue cuma dengerin lagunya doank. Karena pada zaman itu bokap gue belum punya video, belum ada laser disc.....

...Belum ada YouTube juga....
Hahaha... belum ada man haha... nonton VHS aja bayar. Tapi ada gitaris yang gue idolakan dari kecil sampai SMA. Kalau dari luar Slash, kalau dari Indonesia, Pay. Gue tertarik gara-gara ritem section nya dia sejak album pertama Slank keluar, Suit.. Suit.. He.. He... Waktu album pertama Slank keluar, gue ngeliat klipnya di TVRI, gue nonton sambil makan siang, gue langsung tertarik dengan musiknya karena pada saat itu kan lagi ramai band-band metal yang speed-speed an. Begitu Slank keluar ada blues-blues nya gitu, mungkin karena gue dari kecil sudah dengerin blues, akhirnya kena lah gue dari situ, keren banget ritemnya, ada rock n roll nya.

Kapan anda mendapatkan gitar pertama?
Kelas 1 SMP. Gitar pertama gue waktu itu gitar akustik merknya Osmond, kalau gak salah harganya Rp. 35.000,- beli di pasar. Baru kemudian gue dapet gitar elektrik pertama dari salah satu pengrajin gitar disana. Akhirnya setelah punya gitar sendiri gue makin semangat latihannya. Lalu mulai berproses ikut festival mulai dari kalah dan kalah lagi, baru setelah kelas 2 SMP mulai menang dan menang akhirnya gue dibelikan gitar Ibanez RG270 (dulu masih buatan Jepang).

CellaKebetulan dulu gue punya 2 hobi : musik sama balap (road race). Dua hobi ini startnya barengan. Tapi setelah mengalami proses akhirnya gue memutuskan 'kayaknya hidup gue di musik'. Tapi pada akhirnya gue mulai merasa jenuh ikut festival terus. Setelah itu gue mulai ngamen di cafe kecil-kecilan. Dulu gue dibayar pake pisang bakar aja udah senang banget haha... Kemudian lanjut ngisi acara ulang tahun dengan bayaran Rp. 60.000,-. Lagu yang dibawain dulu apa saja yang sedang hits. Meski band kita spesialis bawain Gigi, tapi kadang Ada Band (eranya Baim) juga dimainkan. Oh iya, kita juga sering bawain Van Halen, dulu gue ngefans berat sama Eddie Van Halen.

Apa yang istimewa dari Eddie Van Halen pada saat itu hingga anda mengidolakannya?
Teknik whammy barnya dulu gue lihat di VCD konser Right Here Right Now. Anjir... ini gitaris keren banget. Akhirnya gue cari album Van Halen dari awal sampe terakhir. Bahkan pada waktu itu untuk gitaris seumuran gue, di daerah gue bisa dibilang gue gitaris pelopor yang bawa-bawa bor ke festival-festival.

Jika kita membaca buku biografi Dewa Budjana dan Piyu, mereka pernah melakukan pekerjaan kasar untuk memperjuangkan musiknya. Ada yang jadi montir di bengkel dan sebagainya. Apa yang pernah anda lakukan sebelum meraih sukses di era Dream Band?
Pada saat gue lulus SMA, gue kan akhirnya memilih musik sebagai jalan hidup gue (ketimbang balapan). Akhirnya tahun 2000 gue memutuskan merantau ke Jakarta.
Disini gue sendirian, nggak ada saudara. Di Jakarta gue ngekost meski itupun nggak tahu besok bisa makan atau nggak, karena uang habis untuk sewa kost. Gue sempet stress, ini Jakarta man, gue mau kerja apaan? Akhirnya gue inisiatif nanya dimana ada sekolah musik. Ketemulah di Chics Music Rawamangun. Disanapun awalnya gue nongkrong-nongkrong aja, sosialisasi. Tahun pertama di Jakarta gue berjuang untuk bertahan hidup. Karena kalau gue nggak survive dan minta sama orang tua, gue malu man. Pokoknya gue nggak mau pulang sebelum sukses. Waktu itu supaya gue dapet doa restu orang tua, gue bilang ke mereka supaya nggak usah mikirin gue disini karena gue udah punya kerjaan. Padahal gue disini kagak punya kerjaan.

Akhirnya gue dapet kerjaan disini jadi tukang sebar-sebar brosurnya Chics Musik. Nyebar brosur dari rumah ke rumah, jual koran, sambil jaga studio di daerah Rawamangun namanya Dana Studio. Di studio itu gue jadi kru sound system. Pada saat kerja di studio tersebut, salah satu personel band cafe yang sering latihan disana ngeliat gue lagi main gitar dan ngajak latihan karena gitarisnya tidak datang. Mereka tertarik (dengan gue) karena pada saat itu mereka juga sedang bermasalah dengan gitarisnya. Gue direkrut mereka, alhamdulillah dapat kerjaan lagi. Gue rasa itu proses karena gue memang tidak pernah punya target harus mencapai ini dan itu apalagi sukses, bodo amat. Target gue pada waktu itu cuma gimana caranya bisa makan, selesai.

Setelah satu tahun berjalan, bassist band gue itu yang namanya Hatta bilang kalau di TV7 (sekarang Trans7) sedang ada festival band, namanya Dream Band. Tapi kemudian dia bilang ke gue kalo ternyata itu bukan festival band, melainkan festival individual (pemain musik). Ternyata dia sudah daftarin nama gue dan audisinya 2 hari kemudian, orang ini betul-betul pahlawan gue!. Kebetulan waktu itu pilihan lagu wajibnya ada Cukup Siti Nurbaya (Dewa 19). Gue pilih lagu itu, gue gak perlu ngulik karena pernah bawain. Waktu itu audisinya di gedung Yamaha. Yang ikut audisi waktu itu ada ratusan gitaris dengan penampilan yang keren-keren sedangkan gue tampil dengan kaos, jeans sobek-sobek, dan sepatu Converse hitam yang gue tipe-x biar mirip pola EVH Frankenstein. Waktu itu gue ikut audisi cuma karena ingin menghargai teman gue yang sudah capek-capek daftarin.

Pada waktu itu siapa saja jurinya?
Baim dan John Paul Ivan. Waktu di dalam ruangan audisi gue main colok langsung dari gitar ke ampli karena waktu itu nggak punya apa-apa, jadi kebiasaan main plug and play. Ketika mainin lagu Cukup Siti Nurbaya gue mainin lead yang beda dari lagu aslinya. Trus gue disuruh ngulang dan main blues. Tapi gue main blues a la gue sendiri, Blues Drop D hehehe... Ternyata gue lolos audisi sampai yang ke-3. Di audisi yang terakhir ini Dodi Kahitna sebagai head juri minta gue solo gitar. Akhirnya gue solo gitar ala Drop D karena waktu itu lagi demen Limp Bizkit. Ternyata nama gue dipanggil (sebagai yang terpilih). Anjrit... seneng banget gue haha...

CellaSetelah menang di Dream Band apakah anda juga mengajar atau pernah menjadi pengajar?
Walau yang nawarin banyak, tapi gue nggak pernah ngajar. Soalnya gue ini buta teori musik. Gue nggak tau harus ngajarin mulai darimana.

Pengalaman apa saja yang didapat selama mengikuti Dream Band?
Yang jelas gue dapet banyak ilmu dari coaching clinic nya Baim dan juri-juri lainnya karena gue kan masih awam dalam industri. Gue juga jadi belajar soal hal-hal teknis seperti dinamika dan harmonisasi pada saat membuat lagu. Tapi memang membuat lagu adalah hobi gue. Bahkan sebelum mengikuti Dream Band, gue sudah menciptakan 50 lagu.

Tapi setelah Kotak jadi juara Dream Band gue dapet tambahan semangat waktu ketemu Om Eet (Sjahranie). Waktu pertama ketemu gue senang banget karena gue udah lihat dia dari zaman dulu banget. Waktu itu gue tanya macam-macam sama Om Eet. Eh nggak taunya dia bilang "lu yang kemarin menang ya? keren lu emang. Gue udah nebak dari awal gitaris paling beda itu elu." haha....
Gue banyak belajar dari dia (Eet) dan apalagi Pay, itu orang guru gue banget deh.

Pada saat memasuki dunia rekaman anda mendapat referensi bermusik darimana?
Referensi gue pada saat itu ketika lagi gencar-gencarnya modern rock. Tahun 2004 kalo gue bilang itu adalah tahun rock. Bayangkan mulai dari Limp Bizkit, Korn, Edane, Creed, keluar semua di tivi! Anjir, nggak ada tahun kayak gitu lagi kalo gue bilang. Musik pada tahun itu banyak ngasih inspirasi ke gue sampai saat ini. Musik rock pada era itu mulai dari chord-chordnya, soundnya, gila keren banget! Akhirnya Kotak album pertama itu gue konsep dengan banyak inspirasi dari Limp Bizkit dan Mark Tremonti. Waktu itu gue sudah nggak doyan main skill-skill karena gue sudah tahu porsi. Sekarang bukan porsi band tahun 90an, sekarang eranya modern rock. Gue buanglah skill-skill gue meski kalau fingering ya tetap lah.

Waktu mengkonsep musik Kotak terutama album pertama, apakah konsep itu datangnya dari juri yang memang ingin membentuk band modern rock atau dari kalian sendiri?
Dari anak-anak Kotak sendiri. Karena musik itu nggak bisa dipaksakan. Juri-jurinya juga sudah menyadari apa yang keluar dari Kotak ya itulah musiknya Kotak. Jadi nggak pernah musik Kotak itu diatur-atur mereka.

Kotak kan termasuk jebolan reality show. Apakah pemusik-pemusik jebolan reality show sekarang bisa seberhasil Kotak juga?
Kalau acaranya sih bagus ya. Karena itu kan memberi kesempatan kepada musisi-musisi untuk bisa tampil, karena kesempatan itu kan nggak akan datang dua kali. Kalau masalah sukses atau nggak yang menentukan ya usaha masing-masing musisinya sendiri dan materi lagu. Itu yang paling menentukan sebenarnya, bukan status juara. Karena banyak koq yang menang di Dream Band setelah angkatan gue, yang menang nggak jadi apa-apa, betul nggak? Materi lagu yang menentukan, udah cuma itu aja.

Lalu kalau dilihat, Dream Band angkatan pertama lebih banyak yang berhasil. Apa sih penyebabnya?
Apa ya? Faktor kebetulan juga iya. Karena kalau dilihat-lihat setelah Dream Band angkatan-angkatan setelahnya meski skillnya bagus-bagus juga cuma karena pengen ikut seperti yang juara sebelumnya, akhirnya musiknya jadi nggak punya karakter sendiri.

Setelah mulai memasuki industri musik, apa rasanya melihat album karya anda terpampang di lapak bajakan?
Jujur ya sebelum gue memasuki industri musik pun gue juga pembajak. Semua musisi pasti begitu. Karena kondisi gue pada waktu itu tidak memungkinkan buat beli CD original, buat makan aja susah. Akhirnya ya mau nggak mau gue beli mp3 gitu. Begitu gue terjun langsung ke industri musik, baru gue berasa man. Anjrit dibajak nggak enak juga ya?! Sama teman-teman sendiri juga haha... Ya begitulah, royalti kecil. Tapi gue sebenarnya nggak mikir (concern) kesitu juga. Sakit hati sih iya, tapi ya cuma gitu doank. Tapi yang bikin gue senang adalah Alhamdulillah sudah dikasih jalan sama Tuhan sampai ke tahap ini.

Dengan adanya pembajakan, di zaman sekarang salah satu royalti terbesar justru bisa didapat dari RBT. Apakah anda pernah membuat lagu dengan orientasi RBT? Bisa diceritakan kisah-kisah menarik dibalik proses pembuatan lagu anda?
Nggak. Sama dengan prinsip hidup gue. Gue hidup itu nggak pernah yang namanya berharap. Mau itu dalam urusan bikin lagu mau gue pergi kemana itu hanya mengikuti kata hati aja.

Pas mau masuk album ke-2 vocalis gue kan nggak ada (keluar). Vakum gue 2 tahun. Pada saat itu gue banyak belajar soal kehidupan. Itu yang banyak pengaruh ke lagu-lagu yang gue bikin. Gue bikin lagu mah bikin aja, diterima syukur, nggak diterima ya udah. Contohnya waktu gue bikin lagu Beraksi, itu gue bikin waktu manggung di Jogja (kampus Universitas Islam Indonesia, Jl. Kaliurang KM 14,4 -red.). Waktu itu pas gue mau manggung ngeliat penontonnya... gila banyak banget man! Banyak banget yang suka dengan Kotak. Gue pikir gila keren banget nih kalau bikin lagu buat penonton. Akhirnya gue bikin lagu di tenda belakang sebelum Kotak naik panggung. Belum ada Blackberry waktu itu, jadi gue cuma pake kertas sama pulpen doank. Udah, jadi. Setelah beberapa tahun kemudian lagu itu yang dipilih (jadi single). Akhirnya ya meledak-meledak juga haha... Padahal nggak sengaja kan gue bikinnya. Jadi menurut gue kalau 'sengaja bikin lagu' itu nggak enak juga didengarnya, karena memaksakan nada. Mendingan rasain aja nada yang keluar, mengalir aja seperti gue tadi.

Gue kalau bikin lagu berdasarkan apa yang terlintas di kepala aja. Nggak pernah gue dengerin lagu tertentu lebih dulu. Gue kalau lagi (tour ke luar kota) di kamar selalu bawa ampli sama gitar. Selalu begitu. Sekarang gue ngerekamnya pake Blackberry. Sebelum ada BB gue pake tape wartawan yang kecil-kecil. Sekarang ada BB lebih enak, sampai rumah gue dengerin, udah langsung gue take sendiri.

CellaAnda merupakan satu dari sedikit pemain gitar yang punya sound tebal di Indonesia. Dari mana proses belajarnya?
Memang waktu gue pertama datang ke Jakarta, gue mulai memperbanyak belajar sound. Gue pengen kenalan sama sound. Sound itu apa sih? Selama ini gue belajar gitar cuma kenal sama gitar doank tapi nggak kenal sama sound. Dulu gue taunya sound cuma tinggal pake apa yang sudah jadi di efek, taunya cuma bunyi, nggak bisa mengolahnya. Biasanya kan anak-anak band kayak gitu. Bawa-bawa efek dan hanya memainkan sound yang sudah ada di efek.
Waktu itu yang jadi media belajar gue pas masih jaga studio di Jakarta. Pas yang punya studio lagi pada tidur, gue belajar sound subuh-subuh. Dari gitar gue colok langsung ke ampli. Dari situ gue bisa membedakan bedanya distorsi efek dengan ampli. Selama 3 tahun gue terus belajar sound, nggak pernah lagi latihan gitar, sampe goblok gue main gitarnya. Tapi itu berguna banget waktu gue ikut Dream Band. Pas audisi settingan sound gue pake distorsi ampli koq bisa tebal. Gue juga nggak tau kenapa.

Mungkin dari jarinya?
Hmmm... mungkin ya, tapi iya juga sih, pasti itu. Alat cuma sekian persen doank, taste nomor satu.

Di rumah pakai alat rekaman apa saja?
Ada ProTools, Nuendo, sama pre-amp simulator gitu deh. Tapi kalau rekaman, tetap gue lebih suka direct langsung ke ampli.

Kapan mulai belajar software musik?
Kalau software gue baru mulai belajar setelah masuk industri.

Ada berapa gitar di rumah anda?
Ada 24. Ada Shecter, karena kebetulan gue diendorse sama Schecter. Ada Fender Stratocaster. Ada juga Ibanez yang gue sebut 'mbah', karena kalau nggak ada dia nggak akan ada gitar-gitar gue yang lain haha... Gibson Les Paul ada 8, trus ada PRS Tremonti. Akustiknya ada Taylor, Yamaha.

Kapan mulai mengoleksi efek?
Kalau efek sendiri gue nggak terlalu ya. Kalaupun ada yang gue butuhin cuma delay, wah, sama modulasi. Distorsi gue tetep pake punya ampli.

Ampli apa saja yang dimiliki?
Gue suka Marshall JCM 900. Itu ampli kalau disebut legend ya sudah pantaslah, soalnya enak, Slash aja pakai itu, sampai sekarang malah.
Saat ini gue diendorse Genz Benz yang karakternya modern.

Bagaimana awalnya anda diendorse oleh Schecter dan Genz Benz?
Waktu itu bareng sama Schecter saat Kotak album pertama. Dulu gue dikasih Schecter Omen. Itu seri awal-awal Schecter masuk ke Indonesia. Waktu itu yang diendorse ada dua, Enda Ungu dan gue. Gue milih gitarnya pun waktu itu selektif banget. Yang penting bagi gue dalam memilih gitar, harus nyaman di tangan dan kuping gue. Nggak peduli entah itu gitar harganya cuma Rp. 800.000,- keq, bodo amat, gue nggak pernah tersugesti merk.

Kapan pertama kali anda mulai mendapat tawaran endorsement?
Waktu Kotak rilis album pertama. Karena waktu masih kompilasi album Dream Band gue masih belum dilihat.

Masih ingat kapan klinik gitar pertama?
Di purwokerto sama Trisno Pas Band. Waktu itu gue bingung mau main apaan, ngajar aja nggak bisa haha... Tapi sebelumnya kan gue udah ngeliat kliniknya siapa gitu, akhirnya gue inisiatif bikin musik sendiri yang instrumental. Waktu itu alhamdulillah kliniknya berhasil dan sampai sekarang selalu meriah. Bahkan pernah gitar yang gue mainkan ditawar orang.

Kalau gue klinik bukan cuma gue yang ngasih ilmu, tapi justru sebaliknya dari penonton juga, kadang-kadang gue yang nanya mereka, pokoknya kita sharing. Bagi gue ilmu itu nggak harus dari orang tertentu. Orang lagi nyapu di jalan pun kalau main gitarnya enak, gue kejar tuh. Gue nggak pernah gengsi untuk bertanya sih.

CellaAlbum Kotak sejak awal selalu diproduseri Pay. Kenapa selalu dengan Pay?
Kalau dengan Pay gue selalu dapat pelajaran. Pokoknya sama dia itu Rock n Roll University lah haha... School of Rock nya dapat banget. Ngetake nya aja sambil ngerokok. Soalnya gue dari SMA kalau manggung selalu sambil ngerokok. Kebiasaan sampai sekarang. Selain itu kalau sama Pay gue bisa bebas, mau bertanya boleh, gue juga bisa belajar recording, belajar ngaransemen, banyak lah. Jujur selama gue rekaman sama dia, gue itu nggak pernah yang namanya diawasin. Karena dia bilang "Komposisi lu itu komposisinya Kotak. Kalau gue pagarin, bukan Kotak namanya". Paling dia cuma bilang "oh jangan gini terlalu idealis", cuma gitu doank.

Sekarang kan personel Kotak yang asli cuma tinggal anda sendiri. Bagaimana anda melihat ini?
Kalau ngomongin takdir ya sudah takdir haha... mungkin memang sudah jalannya. Tapi tanggung jawab moralnya jadi lebih gede. Kalau soal bikin lagu memang dari dulu hampir semuanya lagu gue yang bikin. Tapi yang anak-anak bikin juga ada. Pokoknya gue gimana caranya bendera Kotak tetap ada, apapun halangannya bodo amat.

Punya project lain di luar Kotak?
Sebenarnya gue punya. Cuma belum gue keluarin karena dengan Kotak ini kan sedang berjalan. Kalau gue keluarin juga, nanti gue fokus ke yang mana? Kalau project lain sih banyak. Ada band sok-sokan metal juga hahaha.... Cuma gue pengen jalur indie, karena musik kayak gini kan susah. Project gue ini kayak Marilyn Manson, Rob Zombie, Soilwork, kayak gitu. Selama ini kan gue yang bikin keyboardnya, yang ngegambar drum nya, dll. Pokoknya gue kalau ngasih lagu ke label itu sudah jadi.

Sejak pertama melihat Slash anda kan ingin sekali punya gitar seperti dia. Kapan keinginan itu mulai tercapai?
Dari dulu memang gue ingin banget punya Gibson. Akhirnya baru keturutan setelah Dream Band selesai pas Kotak album pertama. Waktu gue beli, wah seneng banget gue. Dulu gue beli second, karena kalau baru nggak punya duit haha... Akhirnya sekarang gue malah addict sama Les Paul. Entah ya tapi menurut gue Les Paul itu kayak cewek sexy. Apalagi yang tahun-tahun tua.

Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman, kapan pertama kali menginjakkan kaki kembali ke Banyuwangi dan bagaimana perasaannya?
Kotak album pertama tuh. Ya Alhamdulillah. Akhirnya...(sambil menerawang) gue menginjakkan kaki lagi di kampung halaman dan sudah jadi musisi beneran hehe...

Sebagai pemain musik, tau nggak kemarin ada Hari Musik Nasional?
Katanya sih ya? Tapi gue juga nggak tau hahaha...

Waktu itu CEO Nagaswara sempat mengemukakan rencananya untuk memproduksi album generik yang harga jualnya Rp. 6500,- untuk melawan pembajakan. Apa komentar anda?
Menurut gue pembajakan itu nggak akan bisa dibasmi. Sebelum gue sama Kotak aja udah parah gitu, apalagi sekarang. Kalaupun albumnya dijual dengan harga Rp. 6500,-, pembajak tetap akan menjual dengan harga Rp. 5000,- dan orang pasti akan memilih yang harga Rp. 5000,-. Contohnya aja sembako deh, selisih harga Rp. 500,- perak aja dikejar.

Sebenarnya adanya RBT itu kan untuk menanggulangi pembajakan. Bagus juga, itu nolong banget. Kalau di luar negeri kan nggak ada RBT, disana pembajak dipenjara beneran. Kalau disini.... gimana mau ditangkap.... orang di depan kantor polisi aja orang pada jualan bajakan. hahaha

Melihat fenomena maraknya band dan penyanyi yang tampil lipsync, pernahkah anda melakukannya?
Sering. Karena keadaan. Karena di tv itu juga kadang nggak Live. Tapi kalau ada yang Live pasti kita yang dipilih untuk Live. Kalau yang pagi-pagi itu nggak bakalan Live. Ya Dahsyat, Inbox, itu buat gue it's ok buat promo dan itu efeknya gila banget. Mereka sangat membantu banget. Itu ajang promo buat band-band. Kalau nggak ada itu nggak bakal bisa kayak gini.

Kemarin Kotak sempat tampil di acara konser Erwin Gutawa dan tampil diiringi orkestra. Bagaimana awal mulanya?
Waktu itu kita ditawarin. Beneran itu konser paling deg-degan seumur hidup gue. haha... Anjir! Cita-cita gue main sama Erwin Gutawa terkabul juga meski beberapa tahun kemudian. Gue dari dulu pengen tuh kayak Metallica, konser diiringin orkestra. Yang bikin gue deg-degan apa coba? Solo gitarnya! Gue tiba-tiba disuruh main solo gitar, anjir apa-apaan nih?! haha... Durasinya lama lagi...!

Jadi ceritanya waktu itu Erwin Gutawa sudah menentukan lagunya. Dia mau bawain lagu Beraksi, karena dia bilang lagunya keren. Pas latihan... dia bilang, "lo harus solo gitar". Hah?! apa-apaan nih??! haha... akhirnya gue solo gitar, di depan Erwin Gutawa, seseorang yang sangat perfeksionis.

Pengalaman apa yang anda dapat dengan tampil bersama Erwin Gutawa?
Pengalaman latihan sama 160 orang! Gila! Yang bikin sulit adalah lagunya jadi hitung-hitungan, sedangkan gue rock n roll banget. Akhirnya gue belajar lagi. Tapi lagunya ngitung banget. Untung gue bisa hehe...

CellaAda keinginan yang belum tersampaikan?
Gue pengen di album Kotak selanjutnya, seperti Gigi yang pernah mengundang Billy Sheehan main di albumnya. Gue pengen.... walau cuma satu lagu aja... gue pengen album gue diisi Slash. Walau cuma satu lagu aja. Kemarin kan pas Slash ke Jakarta gue ada job manggung, jadi gue nggak bisa nonton. Akhirnya gue kejar ke Kuala Lumpur. Gue berangkat nonton sendirian. Bodo amat. Konsernya jam 8 malam, jam 1 siang gue udah di venue. Saking gue pengen ketemu. Akhirnya ketemu juga.

Bagaimana anda sampai bisa bertemu Slash?
Haha... Jadi ada teman gue yang punya link ke panitia di Kuala Lumpur. Gue dihubungin dan dibawa ke backstage. Diam aja gue di backstage nggak kemana-mana. (Kemudian Cella bertutur dengan sangat emosional) Eh, Slash nongol.. anjing netes air mata gue man hahaha.... nangis gue.... anjir ini nabi gue nih hahaha... gara-gara dia gue main gitar. Akhirnya gue ikut foto, anjir gue senengnya mampus. Itu momen paling bahagia gue yang nggak bisa dibeli dengan uang.

Gue sempet ngobrol sebentar sama dia. Gue cerita kalo dulu gue main gitar gara-gara dia. Dia bilang "Oh, thank you..", sayang karena waktunya terbatas, dia harus check sound dan gue dihadang-hadangin sama body guardnya juga, tapi gue nekat aja gue bilang aja ngefans banget sama dia, gue main gitar gara-gara dia. Dia bilang "terima kasih sudah datang jauh-jauh dari Jakarta", dia tanya "kenapa kemarin di Jakarta nggak datang?". Akhirnya gue sempat lihat dia check sound, lihat gear-gearnya. Anjir keren.... makin tua makin jadi nih orang. Kharismatik dia, amat sangat baik. Gue memetik pelajaran dari dia. Gue tau dia lagi capek banget. Gue aja tur dari kota ke kota udah segitu capeknya, dia turnya antar negara man. Gue tau banget dia capek. Gue lihat dia tertidur di kursi sambil mangap gitu. Tapi begitu bangun dia coba untuk segar, mencoba untuk ketawa, wah gila profesional banget!

CellaDengar-dengar sekarang sudah mulai menjalankan usaha?
Kebetulan gue dari dulu pengen punya usaha clothing yang desainnya all about gitar. Entah itu gambar efek, kabel, ampli, fretboard, apapunlah pokoknya gitar! Tapi Alhamdulillah akhirnya jalan juga. Memang usaha clothingan gue ini segmented banget, buat gitaris dan musisi.

Yang jelas usaha ini sebenarnya untuk menumpahkan ide gue aja. Ya syukur-syukur sekarang udah banyak yang nerima. Ada yang nyari edisi Fender, edisi routing efek, dll. Laku banget man, gitaris-gitaris pada pake.

Nama clothing nya CSix. Apa artinya?
CSix (C6) itu artinya Cella (C-La). C ditambah La yang diambil dari tangga nada ke-6 (La). Kan 1 (do), 2 (re), 3 (mi), 4 (fa), sol (5), la (6). Kalo di equipment gue tulisannya C6 tapi clothing gue namanya CSix.

Lalu apa kesibukan musikal anda belakangan ini?
Ya biasa manggung dan produce band-band baru, bikin lagu buat orang. Kemarin Intan RJ, Dewi Sandra juga pesan lagu sama gue. Kadang gue yang jadi arrangernya juga. Iklan HP juga kemarin sempat bikin.

OK, semoga lancar semua aktivitasnya ke depan. Wawancara kami akhiri dengan dilanjutkan minum Kopi Joss di sebelah utara Stasiun Tugu, Yogyakarta yang sangat rock n' roll. \m/

Aneka Bunga ROADRUNNER LAUNCHING SINGLE TERBARU DREAM THEATER

Label rekaman heavy metal Roadrunner Records meluncurkan single terbaru Dream Theater via akun resminya di YouTube. Single berjudul On The Backs of Angels ini merupakan salah satu materi yang terdapat di album A Dramatic Turn of Events yang rencananya akan dirilis pada 12 September 2011 mendatang. Ini akan menjadi album pertama DT yang dirilis tanpa Mike Portnoy.

Beberapa bulan lalu Mike Portnoy yang telah menjadi salah satu icon grup tersebut memutuskan hengkang. Posisinya kemudian segera digantikan oleh Mike Mangini. Dalam tempo yang relatif singkat, grup ini telah menyelesaikan single pertamanya yang dilaunching di akun resmi YouTube Roadrunner Records. Meski dilaunching di YouTube, namun single yang berdurasi 8:46 itu belum memiliki gambar / video klip.

Rencananya proses pemasaran album ini akan didukung oleh rangkaian tur dunia. Kita berharap semoga promotor-promotor lokal kita dapat mendatangkan band metal progressive terpopuler di dunia ini.

Untuk menyaksikan single terbaru DT, silakan kunjungi link dibawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=oasnbzEMV08&feature=channel_video_title

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More